Jumat, 09 Desember 2011

GEOMORFOLOGI PULAU KALIMANTAN


1.      Morfologi Kalimantan dibedakan menjadi 3 yaitu : Pegunungan, Dataran, dan Rawa.

Karakteristik Tanah
Secara umum karakteristik tanah di Pulau Kalimantan adalah berkisar dari ultisol masam yang sangat lauk dan inceptisol muda. Di bagian selatan dataran aluvial dan tanah gambut yang sangat luas. Sebagian besar tanah telah di berkembang pada dataran bergelombang dan pegunungan yang tertoreh diatas batuan sedimen dan batuan beku tua.
Karakteristik Batuan
Di Kalimantan terdapat empat unit geologi utama, yaitu batuan yang dihubungkan dengan pinggir lempeng, batuan dasar, batuan muda yang mengeras dan tidak mengeras, dan batuan aluvial serta endapan muda yang dangkal.
1)      Kompleks batuan dasar Kalimantan terdiri dari atas sekis dan gneis yang tercampur dengan granit dari Era Palaezoikum dan Periode Terseir membentuk daerah kristal yang sangat luas.
2)      Batuan yang berasosiasi dengan pinggir lempeng Kalimantan mencakup opiolit (kerak samudera) dan melange.
3)      Sebagian besar Kalimantan terdiri dari batuan yang keras dan agak keras, termasuk batuan kuarter di semenanjung Sangkulirang dan jajaran pegunungan meratus, batuan vulkanik dan endapan tersier. Kalimantan tidak memiliki gunung api yang aktif seperti yang terdapat di Sumatera dan Jawa, tetapi memiliki daerah batuan vulkanik tua yang kokoh di bagian barat daya dan bagian timur Kalimantan.
4)      Suatu kawasan yang luas di bagian tengah, timur dan selatan Kalimantan tersusun dari batuan endapan seperti batu pasir dan batu sabak. Selain formasi yang lebih tua di Kalimantan Barat, kebanyakan formasi sedimen relatif muda dan mencakup batu bara dan batuan yang mengandung minyak bumi. Bagian selatan Kalimantan terutama tersusun dari pasir keras yang renggang dan teras kerikil yang sering dilapisi oleh timbunan gambut muda yang dangkal dan kipas aluvial yang tertimbun karena luapan sungai.

Formasi batuan di Kalimantan, terdapat banyak patahan di Kalimantan Timur dan Barat, sedikit di Kalimantan Selatan dan sangat sedikit di Kalimantan Barat. Sebaran patahan yang paling sedikit berada di bagian selatan sampai barat dari Pulau Kalimantan. Batuan Pulau Kalimantan miskin kandungan logam dan tanah Kalimantan umumnya kurang subur dibandingkan dengan tanah vulkanik yang subur di Jawa.
Keberadaan air
Kondisi air dan perairan di pulau Kalimantan meliputi perairan umum (sungai, danau, dan lain-lain) dan perairan laut. Persediaan air tanah di Kalimantan cukup tinggi dengan turunnya hujan sepanjang tahun dan keadaan dalam yang berupa hutan.
Kalimantan merupakan pulau yang memiliki lahan gambut yang sangat luas, kondisi hidrologi Kalimantan umumnya sangat dipengaruhi oleh lahan gambut, karena hutan rawa gambut dalam kondisi murni air tawar memiliki karakteristik kimiawi yang khas. Airnya sangat asam (pH 3,0-4,5) dan unsur hara yang sangat rendah, karena tidak ada nutrisi atau komponen penyangga yang dapat mengalir masuk dari luar area gambut tersebut. Tanah gambut dalam kondisi yang tak terganggu itu mengandung 80-90 persen air. Karena kemampuannya untuk menyimpan air dalam jumlah besar itu, hutan rawa gambut berperan penting dalam mengurangi banjir dan menjamin pasokan air yang berkelanjutan.
Besarnya pengaruh pasang dan curah hujan yang tinggi terutama terjadi pada daerah-daerah pinggiran sungai. Besarnya pengaruh pasang surut ini berkisar antara 1-2 meter.

  Kondisi Iklim
Kalimantan terletak di katulistiwa dan memiliki iklim tropis dengan suhu yang relatif konstan sepanjang tahun, yaitu antara 250 -350C di dataran rendah. Tipe vegetasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah curah hujan tahunan juga oleh distribusi curah hujan sepanjang tahun. Dataran rendah di sepanjang garis katulistiwa yang mendapat curah hujan minimum 60 mm setiap bulan dapat mendukung hutan yang selalu hijau. Semua bagian Borneo terletak di daerah yang selalu basah sepanjang tahun.

Penggunaan Lahan
Untuk penggunaan tanah lahan pertanian yang berkelanjutan, banyak tanah-tanah di Kalimantan memerlukan tindakan-tindakan konservasi terutama untuk lapisan tanah atas dan pengendalian erosi, penggunaan pupuk yang seimbang serta pengelolaan yang baik.
Pulau Kalimantan sebagian besar merupakan daerah pegunungan atau perbukitan (39,69 %), daratan (35,08 %), dan sisanya dataran pantai atau pasang surut (11,73 %) dataran aluvial (12,47 %), dan lain lain (0,93 %).Karena sebagian besar pegunungan, maka di Kalimantan terdapat potensi beberapa taman nasional sebagai konservasi flora dan fauna dan hutan di pegunungan Muller serta sebagian di Schawner yang ditetapkan sebagai world heritage forest dan merupakan cadangan air seluruh Kalimantan sebanyak sekitar 35 %  yang tidak akan habis di masa yang akan datang dengan syarat tidak teganggu dan tercemar serta perlu dilindungi sebagai suatu ekosistem.
Berbeda dengan pulau pulau lain, Kalimantan tidak mempunyai gunung api aktif, kecuali pegunungan Apokayam pada perbatasan dengan Malaysia Timur. Oleh karena itu peremajaan tanah oleh bahan vulkanik tidak terjadi. Hal ini tampak bila tanah di Kalimantan mulai di buka (digarap) tanahnya tidak subur (kecuali diberi pupuk dan dijaga humusnya).
Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi, patahan atau sesar dan gempa bumi, namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. Berdasarkan kajian Banter (1993) kemungkinan sering terjadi erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwener dan Gunung Benturan, serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di Kalimantan. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat, selatan dan timur. Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan tropisini. Bahaya lingkungan ini harus menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan dalam pengaturan ruang wilayah.

Karakteristik geosfer Pegunungan
Pegunungan di Kalimantan berpusat di tengah tengah pulau. Gunung yang tertinggi di Kalimantan adalah Kongkemul (2053 m), yang lebih tinggi di Kalimantan Utara (Malaysia Timur) seperti Gunung Kinibalu (4175 m), Limbakauh (2300 m), Murud (2260 m) dan Gunung Mulu (3000 m). Batas antara Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur dan Pegunungan Kapuas Hulu dengan Pegunungan Muller terbentang dataran rendah Kapuas yang semakin meluas ke arah pantai. Di antara Pegunungan Muller dan Schwaner dengan Pegunungan Meratus terbentang dataran rendah sungai sungai yang mengalir ke selatan. Akhirnya di sebelah Timur terdapat dataran rendah Sungai Mahakam.
Pegunungan utama sebagai kesatuan ekologis di Kalimantan  adalah Pegunungan Muller, Schwaner, Pegunungan Iban dan Kapuas Hulu serta dibagian selatan Pegunungan Meratus.
·         Batuan
Pegunungan yang membujur dari barat daya ke timur laut di bagian utara, dan berawal di Meratus di bagian selatan, terdiri dari batuan Pretertier dan berhubungan dengan antiklinorium Samarinda. Rangkaian pegunungan Pegunungan Kapuas Hulu dan Iran tersusun dari batuan marin Pre Tertier dan Tertier Bawah yang terlipat secara intensif serta menekan ke arah barat laut. Pegunungan Muller terdiri atas Basin Melawi dengan fasies air payau Tertier Bawah.
·         Tanah
Di pegunungan Maratus, terdapat tanah yang paling lapuk yaitu exisol, didominasi oleh liat yang mempunyai sedikit mineral yang terdapat lapuk dan menghasilkan sedikit hara tanaman. Jenis tanah ini terdapat diatas batuan ulta basa.
·         Air
Keberadaan air di pegunungan sangat banyak, karena banyak tersimpan pada hutan-hutan yang terdapat di pegunungan. Selian itu, air tersimpan pada kedalaman yang relatif dangkal sehingga mudah untuk dimanfaatkan untuk segala kebutuhan.
·         Penggunaan lahan
Potensi pertambangan banyak terdapat di pegunungan dan perbukitan di bagaian tengah dan hulu sungai. Deposit pertambangan yang cukup potensial adalah emas, mangan, bauksit, pasir kwarsa, fosfat, mika dan batubara. Tambang minyak dan gas alam cair terdapat di dataran rendah, pantai, dan lepas pantai.
Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. Perkebunan yang potensi dan berkembang adalah : sawit, kelapa, karet, tebu dan perkebunan tanaman pangan.

Karakteristik  geosfer Dataran
·         Batuan
Kondisi batuan di dataran yang meliputi kawasan yang luas di bagian tengah, timur dan selatan Kalimantan tersusun dari batuan endapan seperti batu pasir dan batu sabak. Selain formasi yang lebih tua di Kalimantan Barat, kebanyakan formasi sedimen relatif muda dan mencakup batu bara dan batuan yang mengandung minyak bumi. Bagian selatan Kalimantan terutama tersusun dari pasir keras yang renggang dan teras kerikil yang sering dilapisi oleh timbunan gambut muda yang dangkal dan kipas aluvial yang tertimbun karena luapan sungai.
·         Tanah
Tanah-tanah di Kalimantan adalah tanah yang sangat miskin, sangat rentan dan sangat sukar dikembangkan untuk pertanian. Lahan daratan memerlukan konservasi yang sangat luas karena terdiri dari lahan rawa gambut, lahan bertanah asam, berpasir, dan lahan yang memiliki kelerengan curam. Kalimantan dapat dikembangkan, tetapi hanya dalam batas-batas ekologis yang agak ketat dan dengan kewaspadaan tinggi.
Tanah di atas bagian utama Kalimantan tengah dan Kalimantan timur laut adalah ultasol (acrisol). Tanah yang mengalami pelapukan sangat berat ini membentuk jenis tanah podsolik merah-kuning di sebagian besar daratan Kalimantan yang bergelombang. Tanah histosol, nonmineral atau tanah yang terutama tersusun atas bahan organik disebut gambut, mencakup daerah yang luas di dataran rendah Kalimantan. Tanah ini semula berupa dataran aluvial berbatu di rawa.
Jenis tanah entisol berasal dari batuan yang lebih muda dan kurang berkembang. Fluvent dan aquents (tanah aluvial) terdapat di dataran-dataran banjir pada lembah-lembah sungai dan di dataran pantai, yang menerima endapan baru dari lembah-lembah sungai dan di dataran pantai, yang menerima endapan baru dari tanah aluvial secara berkala. Tanah aluvial yang lebih baru ini umumnya lebih subur dari pada lereng-lereng sekitarnya, tetapi tidak sesubur tanah aluvial laut atau abu vulkanik. Tanah-tanah aluvial di dataran tepi sungai di Kalimantan adalah tanah- tanah yang paling subur dan merupakan habitat yang mudah dikelola.
·         Air
Ketersediaan air di Kalimantan cukup banyak. Hal itu karena Klimantan berada di garis Khatulistiwa dengan hujan yang turun sepanjang tahun, dan kawasan hutan yang masih luas sehingga ketersediaan air tetap terjaga. Di dataran, air mudah diambil karena kondisinya yang relatif dangkal dan banyak terdapai sungai, danau dan rawa.
·         Penggunaan lahan
Penggunaan lahan di dataran banyak digunakan untuk kawasan hutan, baik hutan lindung ataupun hutan produksi, dan perkebunan. Selain itu, beberapa lahan kering di manfaatkan utuk pertanian.

Karakteristik geosfer Rawa
Kawasan lahan rawa di Kalimantan umumnya dipengaruhi oleh sungai-sungai baik sungai ukuran besar dan panjang maupun sungai ukuran kecil. Kalimantan Timur umumnya dipengaruhi oleh sungai Mahakam yang bermuara langsung ke laut, dan jangkauan sungai ini sangat luas, dan untuk ke wilayah lainnya dihubungkan oleh sungai-sungai yang lebih kecil maupun anak sungai. Kalimantan Selatan kawasan lahan rawanya umumnya dipengaruhi oleh sungai Barito yang juga bermuara ke laut, sedangkan sungai-sungai ukuran kecil lainnya yang bermuara ke sungai Barito, sedangkan Kalimantan Tengah oleh sungai Kahayan, Kapuas, Murung dan sungai-sungai lainnya.

·         Tanah
Tanah hydraquents terdapat di rawa pasang surut Kalimantan dengan ciri tanah ini muda, lunak, berlumpur dan belum berkembang. Tanah sulfaquents umumnya terdapat bersama-sama dengan hydraquents. Tanah-tanah yang tersalir buruk ini sangat terbatas untuk tanah pertanian, karena mengandung pirit, yang jika dikeringkan akan menimbulkan kondisi yang sangat masam dengan kadar besi dan aluminium sulfat yang cukup tinggi, sehingga bersifat beracun. Tanah asam sulfat ini terdapat di daerah Pulau Petak, Kalimantan Selatan.
·         Air
Kondisi air di daerah rawa dalam kondisi murni air tawar memiliki karakteristik kimiawi yang khas yaitu airnya sangat asam (pH 3,0-4,5). Keberadaan air di daerah rawa dipengaruhi oleh sungai-sungai di sekitarnya. Lahan gambut ini mampu menyerap air dan menyimpannya dalam jumlah yang banyak sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya banjir.
·         Penggunaan lahan
Penggunaan lahan lahan di daerah rawa apabila musim kemaran/kering di jadikan sebagai pertanian, yaitu untuk menanam padi jenis tertentu yang memiliki daya toleran terhadap lahan gambut. Selain itu, di daerah rawa banyak ditanami mohon bakau untuk mencegah terjadinya banjir.

Pulau Kalimantan banyak terdapat sungai, berikut ini peta sebaran sungai di Kalimantan
Borneo merupakan daratan dengan sungai-sungai besar: Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Kahayan, Sungai Kayan, dan Sungai Mahakam di wilayah Kalimantan. Sungai-sungai ini merupakan jalur masuk utama ke pedalaman pulau dan daerah pegunungan tengah. Semakin ke hulu, sungai lebih sempit. Sungai tersebut mengalir melalui hutan-hutan perbukitan, berarus deras, dan airnya jernih.
Kebanyakan sungai-sungai utama di Kalimantan terdapat di jajaran pegunungan tengah. Pola aliran sungainya secara umum adalah radial sentrifugal, atau menjauhi titik pusat yaitu berasal dari rangkaian pegunungan bagian tengah Kalimantan ke arah laut. Tetapi pada percabangannya pola aliran sungainya adalah dendritik. Pola itu terjadi karena Kalimantan memiliki topografi yang relatif datar, dikarenakan mempunyai pesisir yang rendah dan memanjang serta dataran sungai, terutama disebelah selatan dan barat. Lebih dari setengah pulau ini berada di ketinggian di bawah 150 m dpl dan air pasang dapat mencapai 100 km ke arah pedalaman. Kalimantan tidak memiliki pegunungan berapi namun jajaran pegunungan utamanya semula merupakan gunung berapi. Sungai-sungai itu semakin lebar dan semakin besar volumenya menuju ke laut, karena ada tambahan air dari anak-anak sungainya, yang membentuk sungai utama yang mengalirkan air dari daerah aliran sungai yang luas. Debit air bervariasi menurut musim. Kecepatan arus, kedalaman air, dan komposisi substrat bervariasi menurut panjang aliran dan lebar sungai, dan ini mempengaruhi biota yang dapat hidup di dalamnya.
Kalimantan dilalui oleh sungai-sungai besar yang mengalir dari bagian tengah pulau ke pesisir. Kalimantan memiliki tiga sungai terpanjang yang menjadi kebanggaan Indonesia. Sungai Kapuas (1.143 km), Sungai Barito (900 km) dan Sungai Mahakam (775 m). Sungai Kapuas mengalir dari kaki Gunung Cemaru ke barat, mengaliri sebagian besar Kalimantan Barat. Sungai Barito yang besar mata airnya berasal dari pegunungan Muller dan mengalir ke selatan dan bertemu dengan Sungai Negara yang berasal dari Pegunungan Meratus bermuara dekat Banjarmasin. Sungai Kahayan dan Sungai Mahakam mengalir dari pegunungan di pedalaman ke pesisir timur. Sejumlah sistem sungai yang berukuran besar mempunyai anak-anak sungai yang sangat luas di daerah alirannya di pedalaman dam pantai-pantainya di dataran rendah. Sungai Mahakam, Sungai Barito, Sungai Negara, Sungai Kapuas dan Sungai Baram (serawak) semuanya mempunyai danau tapal kuda dan anak sungai musiman pada dataran banjir.
Puncak pegunungan di Kalimantan rendah, dan bentuknya tumpul. Keadaan ini menyebabkan sungai sungai di Kalimantan tidak begitu deras alirannya (gradien tingginya kecil), sehingga sangat baik untuk pelayaran. Hal ini membantu bagi sistem lalulintas di daratan bagi daerah pedalaman yang sulit terjangkau transportasi darat.
Aliran Sungai di Kalimantan Tengah memiliki fungsi yang penting dalam mendukung perkembangan perekonomian. Sebagian besar daerah-daerah di Kalimantan Tengah dihubungkan oleh sungai, sehingga dimanfaatkan untuk sarana transportasi dan distribusi barang. Selain penumpang, barang-barang yang didistribusikan terutama adalah barang kebutuhan pokok, komoditas hasil perkebunan pertambangan dan indusri. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan distribusi pendapatan masyarakat perkotaan dan pedesaan agar lebih merata. Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksport-import. Seperti misalnya aliran sungai yang berada di wilayah Kalimantan Tengah yang meliputi Sungai Barito dengan panjang mencapai 900 Km, Sungai Katingan sepanjang 650 Km, Sungai Kahayan dan Kapuas masing-masing sepanjang ± 600 Km, Sungai Mentaya 400 Km dan yang terpendek Sungai Seruyan.
Secara umum sungai-sungai di Kalimantan berfungsi sebagai sarana transportasi. Transportasi air menjadi pilihan utama di Kalimantan karena sungai-sungai di Kalimantan besar-besar dan alirannya tenang. Selain itu, dengan transportasi sungai dapat menjangkau tempat-tempat di pedalaman yang sulit untuk dijangkau dengan transportasi darat. Permasalahan yang muncul saat ini adalah mulai terjadi pendangkalan sungai. Hal itu juga membuat penyempitan badan  sungai. Pendangkalan terjadi akibat sedimentasi yang dibawa sungai yang berasal dari erosi di deretan pegunungan bagian tengah Kalimantan, dan maraknya pembuangan sampah di sungai.





1 komentar: