Jumat, 09 Desember 2011

SENSUS PENDUDUK

SENSUS PENDUDUK SEBAGAI MEDIA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PURBALINGGA


A.    PENDAHULUAN
Sensus secara modern pertama kali dilaksanakan di Quebecth 1666, di Swediath 1749, di Amerika Serikat sensus mulai dilakukan tahun 1790 dan di Inggris tahun 1801 yang diikuti oleh masing-masing negara jajahannya.
Di Indonesia, Raffles melakukan sensus pada tahun 1815, selanjutnya tahun 1920 dan 1930. Di Jawa, sensus dilakukan secara de facto sedangkan di luar Jawa secara dejure. Sejak merdeka sampai tahun 2000 Indonesia telah melakukan sensus pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990 dan tahun 2000.
Sensus Penduduk merupakan rangkaian kegiatan pendataan penduduk yang dilakukan dari rumah ke rumah pada seluruh Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing yang tinggal dalam wilayah geografis Indonesia, baik yang bertempat tinggal tetap maupun yang tidak bertempat tinggal tetap.
Kegiatan Sensus Penduduk pernah dilaksanakan pada masa sebelum Indonesia merdeka oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1930, selanjutnya setelah Indonesia merdeka pada 1961, 1971, 1980, 1990, dan 2000. Sensus tahun 1970 baru dapat dilaksanakan pada tahun 1971 karena kesulitan dana dan persiapan pelaksanaan yang belum sempurna. Sensus tahun 1980 dilakukan dalam 2 tahap yaitu tanggal 20 September - 30 Oktober 1980 dilakukan pencacahan sensus lengkap dan tanggal 6 - 31 Oktober 1980 dilakukan pencacahan sensus sampel.  Sensus tahun 1990 dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu pada bulan September-Oktober. Sedangkan tahun 2000 hanya dilaksanakan sensus lengkap pada tanggal 30 Juni 2000 dan untuk selanjutnya juga dilaksanakan sama pada hari H.
Tahapan sensus di Indonesia sebagai berikut, pemerintah memberi mandat pada  Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melakukan sensus, lalu BPS menyiapkan draft pertanyaan, setelah itu mengadakan pelatihan pada petugas sensus untuk mendapatkan data sensus dengan draft yang dibawa, kemudian membagi wilayah dalam wilayah pencacahan, wilayah pencacahan dibedakan antara wilayah pencacahan pedesaan dan wilayah pencacahan perkotaan, pencacahan  dilaksanakan dengan sistem aktif (mendatangi RT dengan membawa draft pertanyaan sensus) pada hari H. Sensus juga biasanya melaksanakan pencacahan potensi desa (PODES) dan pemetaan desa. Hasil sensus akan diolah oleh BPS dan selanjutnya akan diumumkan hasilnya. Selain itu, juga dilakukan sensus khusus berdasar sampel, misalnya sensus pertanian, sensus industri, survei angkatan kerja nasional, dll
Sensus Penduduk 2010 adalah sensus keenam dan akan dilaksanakan pada 31 Mei 2010 dengan acuan UU No. 16 tahun 1997 tentang Statistik, Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik, dan Rekomendasi PBB.



B.     PEMBAHASAN
Sensus penduduk merupakan proses keseluruhan  dari  pengumpulan,  pengolahan,  penyajian,  dan  penilaian  data  penduduk yang  menyangkut  ciri-ciri  demografi,  sosial ekonomi  dan  lingkungan  hidup.
Masyarakat kembali bersiap menghadapi sensus penduduk yang akan dilaksanakan 1-31 Mei 2010. Pemerintah daerah Purbalingga meminta agar seluruh masyarakat Purbalingga mendukung program pemerintah ini dengan memberikan keterangan selengkap-lengkapnya dan apa adanya. Kalau ada petugas sensus, masyarakat harus mengisi sensus dengan sebaik-baiknya, jangan ada yang ditutup-tutupi, dan katakan apa adanya. Ini sangat penting sebagai dasar sarana merencanakan dan melaksanakan evaluasi keberhasilan pembangunan karena data yang didapat berupa data kependudukan yang dapat menggambarkan keadaan penduduk Indonesia hingga wilayah administrasi terkecil. Khususnya untuk melihat keberhasilan pembangunan di Kabupatten Purbalingga dan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bupati juga menghimbau agar orang-orang yang telah lanjut usia dibantu dalam memberikan keterangan kepada petugas. Petugas sensus akan mendatangi rumah-rumah penduduk untuk memperoleh data seperti nama, umur, status perkawinan, agama, kewarganegaraan, bahasa, suku (etnik), tingkat pendidikan, ketenagakerjaan, keterangan rumah tangga, kelahiran, kematian, pendapatan, aktivitas ekonomi, kedudukan dalam aktivitas, status pekerja, industri, penggunaan sarana teknologi informasi dan komunikasi, kondisi bangunan tempat tinggal, sumber air, bahan bakar, sumber penerangan, dan lain sebagainya.
Dengan mengetahui data-data penduduk seperti jumlah penduduk, tingkat pendidikan, aktivitas ekonomi, kondisi bangunan, sumber air, penerangan, ketenagakerjaan, dan pendapatan, pemerintah akan lebih mudah untuk meningkatkan sarana-prasarana yang belum memadai atau yang belum tersedia. Selain itu, data-data tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun Anggaran Belanja pemerintah daerah untuk di alokasikan ke bidang-bidang yang perlu mendapat perbaikan, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat.
Purbalingga dengan penduduk sebanyak 917.176 jiwa sangat mungkin mengalami perubahan data signifikan. Bukan saja terkait dengan jumlah kelahiran dan kematian, tapi juga mobilisasi penduduk keluar atau masuk Purbalingga.
Dengan data sensus yang nantinya akan diperolah, dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan yang nantinya dapat digunakan untuk media atau sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan pemenuhan berbagai macam sarana-prasarana dan infrastruktur yang diperlukan.
Untuk sementara ini, sarana-prasarana dan infrastruktur yang telah tersedia di bidang transportasi adalah diseluruh wilayah Purbalingga sudah tidak ada desa yang tidak terjangkau oleh kendaraan roda 4. Dengan panjang jalan di Kabupaten Purbalingga  sekitar 750 km, maka density jalan terhadap luas lahan mencapai 28%, dimana merupakan density terbesar kedua se-Jawa Tengah setelah Kota Semarang. Dengan kata lain, jaringan infrastruktur jalan sebagai prasarana transportasi telah merambah sampai ke wilayah-wilayah terpencil di Purbalingga. Disamping itu juga tersedia beraneka sarana transportasi, seperti : Becak, Andong, Angkuta, Bus dan mobil carteran.
Untuk lebih menggeliatkan roda ekonomi wilayah Purbalingga dan sekitarnya dengan system networking secara regional, maka Lapangan Udara (Lanud) TNI-AU Wirasaba akan dikembangkan menjadi bandara untuk penerbangan sipil/komersial. Pembangunan ini diharapkan pula akan memperlancar tukar informasi dan teknologi mengingat Universitas Jenderal Soedriman Purwokerto (UNSOED) yang menjadi pioneer bagi tumbuhnya ilmu dan pengetahuan di wilayah Banyumas perlu didukung dengan aksesibilitas yang tinggi sehingga keberadaanya tidak terpencil dan mudah serta cepat dijangkau oleh para agen dan lembaga intelektual (perguruan tinggi, mahasiswa, dosen, peneliti dll) dari luar daerah. Luas lahan Bandara ini adalah 115,042 ha. Memiliki landasan pacu sepanjang 850 meter dengan lebar 50 meter. Landasan yang sudah diperkeras ini memiliki pula Taxiway (jalan menuju tempat parker) ukuran 300 m x 25 m, Apron (tempat parker pesawat) berukuran 100 x 45 m, Threshold (jalur emergency) 600 m. Kondisi tersebut saat ini telah mampu didarati oleh pesawat Cassa 212 (16 penumpang), Cessna 172 (4-6 penumpang), maupun Cesna 402 B (8 – 10 penumpang).
Setidaknya terdapat 3 maskapai penerbangan swasta yang telah tertarik untuk melakukan kerjasama ini, yakni : Asia Java Airlines, Lion Airlines, dan Merpati Airlines, dengan tariff yang ditawarkan untuk route Purbalingga – Jakarta berkisar antara Rp. 140.000,- hingga Rp. 160.000,-
Untuk memenuhi kebutuhan Air terutama Air Minum, maka Pemerintah melalui Perusahaan Daerah Air Minum pada tahun 2001 sudah menyalurkan  Air Minum kepada pelanggannya sebanyak 3.619.615 dengan kapasitas produksi  61.828.800 liter per tahun. Kemampuan untuk mengolah Air Minum ini sangat besar mengingat banyaknya Sumber Mata Air Alami yang terdapat di daerah Purbalingga.
Fasilitas-fasilitas tradisional seperti pasar-pasar tradisional tetap dipertahankan. Sedangkan fasilitas-fasilitas modern seperti pusat perbelanjaan, bank,  pabrik-pabrik dan perumahan tumbuh subur dalam rangka mendukung perkembangan bisnis yang kian pesat.
Sarana kesehatan yang ada di Purbalingga cukup lengkap, mulai dari Rumah Sakit dengan dokter umum dan dokter spesialisnya, puskesmas dan puskesmas pembantu bagi yang berada di desa sudah cukup mudah didapatkan. Karena di setiap desa dan setiap kecamatan terdapat puskesmas.
Sedangkan untuk menjaga kesehatan, banyak sarana yang bisa dipakai seperti : Stadion Wasesa, GOR Mahesa Jenar, Gelora Goentoer Darjono, Lapangan Tenis, Kolam renang dan sarana-sarana umum yang lain yang dapat digunakan untuk olahraga.
Berbagai fasilitas komunikasi dan informasi cukup beragam terdapat di Kabupaten Purbalingga, mulai dari Kantor Pos, radio amatir, telephone sampai keberadaan warnet yang sudah tidak begitu sulit didapatkan di Purbalingga. Sampai saat ini telah terdapat 6 provider telepon bergerak (handphone), baik berbasis GSM maupun CDMA, yang telah mampu mengcover sekitar 95 % dari total area Kabupaten Purbalingga. Keenam provider tersebut adalah : Simpati (Telkomsel), Mentari, IM3 dan Matrix (Satelindo), maupun Fren/Mobile 8 dan Flexi (Telkom). Keberadaan Statsiun Transmisi Data bagi telpon GSM (dalam hal ini provider Matrix, IM3 dan Telkomsel) makin memudahkan untuk koneksi internet melalui system wireless, disamping 2 jalur lainnya, yakni WLL dan dial up melalui kabel telpon.
Ketersediaan listrik sebagai kebutuhan primer kehidupan modern sangat diperhatikan dan dijamin oleh PLN. Berdasarkan data tahun 2001, Daya Tersambung adalah sebesar 57.424.900 VA dengan jumlah KWH yang terjual 14.862.400.
Keberadan bank-bank baik swasta maupun pemerintah seperti : BRI, BNI 46, BPD, Lippo, Danamon, Mandiri, BCA, BPR Syariah (Buana Mitra Perwira) dengan jumlah kantor sebanyak 30 kantor bisa menjadi indikasi bahwa perkembangan dunia usaha dan ekonomi di Kabupaten Purbalingga cukup baik.
Sarana prasarana tersebut hingga saat ini telah mencukupi kebutuhan masyarakat Kabupaten Purbalingga dengan jumlah penduduk sebanyak 849.831 jiwa. Penduduk yang tergolong angkatan kerja sebanyak 381.252 orang dan yang bukan angkatan kerja sebanyak 254.858 orang, yang berarti Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Kabupaten Purbalingga tahun 2003 sebesar 59,93 sedangkan dari hasil Susenas 2003 juga dapat diketahui bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 3,81 atau dengan kata lain Tingkat Kesempatan Kerja (Employment rate) sebesar 96,19.
Apabila dilihat dari jam kerjanya ternyata 63,93 % penduduk yang bekerja di Kabupaten Purbalingga tahun 2003 sudah bekerja lebih dari 35 jam dalam seminggu. Sektor Pertanian ternyata masih dominan di Kabupaten Purbalingga, hal ini terlihat dari besarnya kontribusi sektor pertanian pada tahun 2001 yaitu sebesar 40,53 %.
Kabupaten Purbalingga memiliki banyak produk unggulan, antara lain :
Produk Unggulan :
1.      Produk Unggulan Sub Sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura adalah komoditas jeruk, kobis dan kentang
2.      Produk Unggulan Sub Sektor Perkebunan adalah komoditas Melati gambir, kelapa, nilam, glagah arjuna dan kelapa deres
3.      Produk Unggulan Sub Sektor Perhutanan adalah komoditas Kayu Albasia
4.      Produk Unggulan Sub Sektor Perikanan adalah Ikan Gurami
5.      Produk Unggulan Sub Sektor Peternakan adalah sapi potong
6.      Produk Unggulan Sub Sektor Industri meliputi kerajinan rambut, kayu olahan, sapu glagah dan aneka kerajinan dari glagah serta keramik.
7.      Produk Unggulan Sub Sektor Pariwisata adalah Obyek Wisata Gua Lawa, Aquarium Pancuran Mas Purbayasa, kolam renang Owabong, Taman Reptil dan Taman Buah, Bumi Perkemahan Munjuluhur, Pos Pendakian Gunung Slamet, monumen Jendral Soedirman,
Produk Andalan :
1.      Produk Andalan Sub Sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura adalah kacang panjang
2.      Produk Andalan Sub Sektor Perkebunan meliputi lada dan kopi
3.      Produk Andalan  Sub Sektor Perhutanan adalah sutera
4.      Produk Andalan Sub Sektor Perikanan adalah Ikan Nila
5.      Produk Andalan Sub Sektor Peternakan adalah Kambing khas Kejobong
6.      Produk Andalan Sub Sektor Industri meliputi gula kelapa, kerajinan kayu dan furniture, tepung tapioka, mie kering dan soun, kerajinan tempurung serta kerajinan
bambu
7.      Produk Andalan Sub Sektor Pariwisata adalah Purbasari Pancuran Mas, Pendakian
Gunung Slamet dan Petilasan Ardi Lawet.
Produk potensial :
1.      Produk Potensial Sub Sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura meliputi durian, duku dan rambutan
2.      Produk Potensial Sub Sektor Perkebunan meliputi cassiavera, mlinjo, cengkeh,
tanaman obat, pinang, teh dan  sereh.
3.      Produk Potensial Sub Sektor Perhutanan adalah madu
4.      Produk Potensial Sub Sektor Perikanan adalah Ikan Tawes dan Nilem
5.      Produk Potensial Sub Sektor Peternakan adalah ayam ras pedaging dan ayam
buras
6.      Produk Potensial Sub Sektor Perindustrian adalah aneka makanan, variasi knalpot,
tahu dan tempe
7.      Produk Potensial Sub Sektor Pariwisata adalah Wana Wisata Serang dan Monumen tempat lahair Jenderal Soedirman.
Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Purbalingga cukup tinggi. Pada tahun 1999 kenaikan produk Domestik Bruto adalah 1,10 % sedangkan pada tahun 2001 kenaikannya sebesar 2,98%. Sama dengan bidang agrikultur, di sektor industri ini peran investor diharapkan untuk menggarap / memperluas Pasar (Marketing), terutama untuk komoditas bambu, tempurung, sapu, knalpot, kayu, dan air minum dalam kemasan (AMDK).
Sentra Industri Kecil non Formal yang ada di Kabupaten  Purbalingga antara lain :  
o   Sentra Minyak Atsiri / Minyak Nilam / Minyak Sereh
o   Sentra Bata Merah / Batu Bata
o   Sentra Genteng Pres
o   Sentra Tempe
o   Sentra Tahu
o   Sentra Emping Mlinjo
o   Sentra Kue Kering
o   Sentra Gula Jawa
o   Sentra Knalpot
o   Sentra Antihan Benang / Benang
o   Sentra Batik Tulis
o   Sentra Sapu Glagah / Sapu Lidi / Sapu Ijuk
o   Sentra Kerajinan Tempurung
Penduduk kabupaten Purbalingga terdiri dari berbagai ragam agama dan budaya, sampai saat ini merupakan komunitas yang hidup berdampingan secara damai dan tenang, sehingga menciptakan kondisi yang aman, tentram dan terkendali. Sarana prasarana terpenuhi dengan baik. Lapangan pekerjaan yang tersedia dapat mencukupi jumlah angkatan kerja masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari angka kriminal yang pada tahun 2003 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 33.49 % atau dari 212 perkara menjadi 141 perkara. Menurunnya angka kriminalitas juga bisa menjadi indikasi kesejahteraan masyarakat yang meningkat dan keberhasilan pembangunan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar