Rabu, 07 Desember 2011

ISU-ISU STRATEGIS LINGKUNGAN HIDUP


ISU-ISU STRATEGIS LINGKUNGAN HIDUP
Faktor penentu isu strategis
1.    Menyangkut hajat hidup orang banyak
2.    Lintas sektor
3.    Lintas wilayah
4.    Sedang berlangsung atau dipercaya akan terjadi
5.    Berdampak negatif jangka panjang jika tidak diselesaikan
6.    Potensi mengganggu pelaksanaan pembangunan berkelanjutan
7.    Potensi dampak kumulatif dan efek berganda

Menentukan Isu Strategis
1.    Isu strategis dinyatakan secara lengkap, misalnya ukuran, lokasi, tempat, dll.
2.    Isu strategis disusun dalam suatu daftar
3.    Isu strategis dikelompokkan menjadi isu bersama (yang diketahui dan dirasakan khalayak), namun dapat juga merupakan isu spesifik (isu penting yang belum tentu diketahui khalayak).

Contoh isu strategis global
1.        Illegal logging dan perusakan hutan.
2.        Pemanasan global.
3.        Peranan kehutanan dan perkebunan di dalam mendukung mengurangi kemiskinan bagi petani hutan/kebun serta peningkatan peluang kerja dan usaha.
4.        Dukungan penyediaan bahan baku penghasil biofuel sebagai pengganti bahan bakar minyak, peningkatan swasembada gula dan mengurangi impor kapas untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil.
5.        Rehabilitasi hutan dan lahan dalam rangka mendorong peningkatan daya dukung lahan, air dan ekosistem.
6.        Peningkatan nilai tambah/pendapatan bagi petani hutan/kebun sesuai tuntutan pembangunan.
7.        Proyeksi luas areal sektor kehutanan, khususnya luas areal hutan negara dari tahun ke tahun tetap, sedangkan untuk luas areal hutan rakyat diproyeksikan mengalami peningkatan.
8.        Meningkatkan kemampuan daerah dalam pengelolaan pengembangan tata ruang.
9.        Memantapkan struktur dan hirarki sistem kota-kota
10.    Pengelolaan pertumbuhan wilayah yang terintegrasi antar sektor pembangunan
11.    Menjembatani kebijakan RTRW Provinsi yang bersifat makro dengan kebijakan
12.    RTRW Kabupaten/Kota yang bersifat parsial
13.    Meningkatkan peran dunia usaha dan daya saing melalui penciptaan iklim kondusif bagi pengembangan infrastruktur dan wilayah
14.    Mendorong penataan ruang kawasan untuk revitalisasi dan kelestarian lingkungan serta budaya
15.    Mendorong pemberdayaan masyarakat untuk ikut serta dalam perencanaan, pengawasan dan pengelolaan penataan ruang
16.    Mendorong pengembangan wilayah/kawasan yang saling memperkuat dan seimbang
17.    Perubahan iklim mikro, pencemaran air permukaan dan polusi udara serta penurunan muka air tanah .
Pada dasarnya munculnya isu - isu lingkungan awalnya merupakan penyusunan dan penataan ruang selalu mencari tempat yang strategis dan bukan menciptakan atau membuat tempat strategis. Sehingga lokasi yang menjadi tmpt strategis telah melampaui daya dukung dan daya tampung.

Contoh isu strategis Pulau Jawa dan Bali

1.  Tekanan Penduduk Pulau Jawa
  • 60% penduduk Indonesia di P. Jawa à luas P. Jawa hanya 7% dari total luas Indonesia
  • Kepadatan agraris dan kepadatan geografis menunjukkan tingkat kepadatan yang tinggi.
  • Perkembangan penduduk P. Jawa dalam periode 1930-2008 mengalami peningkatan hingga lebih dari tiga kali lipat, yakni dari sekitar 41.7 juta jiwa (1930) menjadi 134.4 juta jiwa (2008).
2. Mempertahankan Sawah, Konversi Lahan, dan Pangan
  • 55,80% P. Jawa adalah lahan pertanian tanaman pangan, terutama sawah
  • P. Jawa tumpuan produksi beras nasional (56,1%)
  • 1979-1999: konversi sawah di P. Jawa sangat tinggi (55,78%).
  • 1999-2008: laju konversi sawah 0.21% per tahun
  • 62% penduduk P. Jawa bekerja di sektor pertanian (1971) bergeser menjadi 33,59% (2007)
  • 2008: kemiskinan terbesar di P. Jawa berada di pedesaan (11,42 juta jiwa), akibat rendahnya akses petani terhadap lahan, fragmentasi lahan, dan meningkatnya jumlah buruh tani.
3. Meluasnya Jumlah Lahan Kritis, Degradasi dan Deforestasi Hutan
  • Proses deforestasi terutama akibat kegiatan pembalakan komersial (legal maupun ilegal), pertambangan, pertanian dan perkebunan, serta berbagai proyek pembangunan infrastruktur dan sektor pariwisata.
  • Kerusakan hutan terjadi di kawasan hutan produksi dan hutan lindung.
  • Di perkotaan, ekspansi aktifitas urban (suburbanisasi) merupakan faktor utama terjadinya konversi lahan pertanian ke aktivitas urban. Dengan demikian sebagian besar magnitude proses konversi lahan berlangsung di kawasan perdesaan, khususnya pada kawasan-kawasan perbatasan kota-desa dan perbatasan kawasan budidaya-non budidaya.
4.  Daya Dukung Lingkungan Hidup Terlampaui
  • Laju pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi, tekanan kepadatan penduduk, meningkatnya jumlah pengangguran, dan semakin tingginya tingkat kemiskinan dalam satu dekade terakhir ini telah menyebabkan perubahan-perubahan seperti peningkatan kebutuhan lahan, peningkatan kebutuhan pangan, konsumsi energi yang cenderung meningkat, dan konsumsi air yang semakin tinggi.
  • Kejadian bencana banjir dan longsor di P. Jawa menunjukkan kecenderungan frekuensi kejadian dan lokasi sebaran yang semakin meluas.
  • Kondisi daya dukung ekologis P. Jawa telah terlapaui
      Kajian Daya Dukung P. Jawa (Menko Ekuin 2006 & 2007) dan Studi Tata Lingkungan P. Jawa (KLH 2007)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar